E-learning merupakan belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet atau media komputer lainnya (Luqman dan Anies, 2013). E-learning ini sebenarnya berfokus pada learning, jadi adanya e-learning tujuannya untuk menunjang sebuah pembelajaran. Dalam prakteknya e-learning membutuhkan teknologi pendukung yaitu media elektronik, contohnya komputer, smartphone, telephone seluler, radio, TV interaktif film, video, OHP, Slide, LCD Projector, tape dan teknologi internet. E-learming merupakan perpaduan antara Computer Based Learning (pembelajaran yang sepenuhnya menggunakan computer) maupun computer assisted learning (pembelajaran yang menggunakan alat bantu utama computer) dan Online Learning termasuk Web Based Learning didalamnya. Jadi Web Based Learning ini merupakan penerapan dari E-learning itu sendiri. E-learning merupakan segala kegiatan komunikasi dan kegiatan pelatihan yang menggunakan elektronik. Selain itu e-learning juga menggunakan teknologi internet contohnya Web Based Learning yang pembelajarannya berbasis website dimana dalam pembelajarannya harus terkoneksi dengan internet. Pembelajaran dikatakan berbasis website jika dalam pembelajaran memanfaatkan teknologi internet dan jika proses belajar tersebut dirasa terjadi (Rusman,dkk, 2013), artinya meskipun menggunakan internet proses pembelajaran harus tetap dikontrol oleh guru sebagai pihak yang harus berperan aktif dalam perkembangan belajar peserta didik.
Teknologi sendiri kini sudah sejalan dengan perkembangan zaman, dimana sekarang ini kita sudah masuk di era modern dan dituntut untuk menguasai dan mengembangkan teknologi yang sudah ada. Pada prinsipnya teknologi di bagi menjadi 2 kelompok, yaitu Technology Based Learning dan Technology based web learning. Technology Based Learning didalamnya terbagi menjadi 2 jenis yaitu Audio information Technology, contohnya radio, audio tape, telephone dan Video Information Technology contohnya, video tape. Sedangkan technology based web- learning pada dasarnya adalah Data Information Technologies (internet, e-mail, tele- collaboration) (Rusman, dkk, 2013).
Dalam pembelajaran sehari-hari, yang
sering dijumpai adalah kombinasi dari teknologi audio/ data, video/ data,
audio/video. Teknologi ini juga sering dipakai pada pendidikan jarak jauh.
Pendapat Rosenberg (Rusman, dkk, 2013) mengkategorikan tiga kriteria dasar yang
ada dalam e-learning. Pertama, e-learning bersifat jaringan, yang membuatnya
mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali,
mendistribusikan, dan sharing pembelajaran dan informasi. Kedua, e-learning
dikirimkan kepada pengguna melalui computer dengan menggunakan standar
teknologi internet. Ketiga, e-learning terfokus pada pandangan pembelajaran
yang paling luas, solusi pembelajaran yang menggungguli paradigm tradisional
dalam pelatihan.
Ada beberapa alternative paradigma pendidikan melalui internet yang salah satunya adalah sistem “dot.com educational system” (Kardiawarman dalam Rusman dkk, 2013). Paradigma ini dapat mengintregasikan beberapa sistem seperti:
1. Virtual Teacher Resouces : dapat mengatasi terbatasnya jumlah guru yang berkualitas, sehingga sisw tidak harus secara intensif memerlukan dukungan guru, karena peranan guru maya (virtual teacher)
2. Virtual school system: dapat membuka pelunag menyelenggarakan pendidikan
dasar, menengah, dan tinggi yang tidak memerlukan ruang dan waktu.
Keunggulannya daya tamping siswa tidak terbatas. Siswa dpat belajar kapan saja,
dimana saja dan dari mana saja.
3. Cyber educational resources system atau dot com learning resources
system : pendukung kedua paradigm diatas dalam membantu akses terhadap artikel
atau jurnal elektonik yang tersedia secara bebas dan gratis dalam internet.
Intinya dari segi teknologi, sistem
yang paling disukai adalah sistem yang sederhana, menarik, dan mudah untuk
digunakan Dalam hal ini, perencanaan
sistem ELearning yang baik haruslah dapat menarik pengguna dengan menampilkan
desain antarmuka yang interaktif, sehingga membantu pengguna untuk betah berada
dalam kelas virtual tersebut (Susanti dan Muhammad, 2008).
Berkaitan dengan pengembangan model
e-learning menurut pendapat Haughey (Rusman, dkk 2013) terdapat tiga
kemungkinan dalam mengembangkan sistem pembelajaran berbasis internet, yaitu
web course, web centric course, dan web enhanced course.
1. Web course adalah penggunaan internet untuk keperluan pendidikan jarak
jauh, pada jenis ini guru dan siswa tidak perlu untuk bertatap muka. Seluruh
bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, ujian dan kegiatan
pembelajaran lainnya sepenuhnya disampaikan melalui internet.
2. Web centric course adalah penggunaan internet yang memadukan sistem
jarak jauh dan tatap muka. Sebagian materi disampaikan melalui internet, dan
sebagian lainnya melalui tatap muka. Jadi dalam jenis ini fungsinya saling
melengkapi.
3. Web enhanced course adalah pemanfaatan internet untuk menunjang
peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan di kelas. Jadi peran dosen
disini dituntut untuk menguasai teknik mencari informasi di internet,
membimbing mahasiswa mncari dan menemukan situs-situs yang relevan dengan bahan
perkuliahan, menyajikan materi melalui web yang menarik dan diminati, melayani
bimbingan dan komunikasi melalui internet dan kecakapan lain yang diperlukan.
Menurut Henderson (lukman dan Anies,
2013) ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membangun sebuah sistem
e-learning :
1. Menentukan tujuan dari sistem E-Learning
Pada tahap ini pengembang sistem
harus menentukan apa yang ingin dicapai dengan adanya e-learning tersebut.
2. Memulai sistem dalam skala kecil
Sebaiknya e-learning dimulai dari unit yang kecil dan dievaluasi sepeenuhnya terlebih dahulu untuk menjadi model bagi sistem dalam skala yang lebih besar.
3. Mengkomunikasikan dengan Peserta Didik
Pengembang sistem E-learning
seharusnya selalu mengomunikasikan sistem yang sedang coba dibangun kepada
peserta didik, agar peserta didik memahami tentang system yang dibangun dan
dikembangkan.
4. Melakukan evaluasi secara
berkesinambungan
Evaluasi terhadap sistem dan segenap
aspeknya perlu dilakukan secara terus menerus untuk menjamin keberhasilan
penerapan E-learning.
5. Mengembangkan sistem dalam skala
lebih besar.
Setelah sistem mencapai keberhasilan
dalam skala kecil maka selanjutnya adalah mengembangkan sistem dalam skala
lebih besar.
Untuk mengembangkan E-learning
diperlukan 3 metodologi, yaitu metodologi pengembangan pembelajaran, metodologi
pengembangan perangkat lunak, dan metodologi pengembangan web (Ariesto dalam
Luqman dan Anies, 2013).
1. Pengembangan Pembelajaran
Pengembangan pembelajaran adalah
pengembangan sumber-sumber belajar secara sistematik agar dapat terjadi
perubahan perilaku. Semua usaha dalam teknologi pendidikan ditujukan untuk
memfasilitasi dan memecahkan masalah belajar peserta didik.
2. Pengembangan perangkat lunak
Suatu sistem memiliki siklus hidup
yang disebut System Development Life Cycle (Siklus Hidup Pengembangan Sistem),
yaitu proses pembuatan dan pengubahan sistem serta model dan metodologi yang
digunakan untuk mengembangkan sistem-sistem tersebut dan konsep ini pada
umumnya digunakan pada sistem berbasis komputer.
3. Pengembangan Web Site
Dalam pengembangan web, terdapat beberapa metodologi pengembangan yang diadaptasi dari disiplin ilmu seni atau disiplin ilmu komputer.



Wahhh tampilannya menarik sekali kak dan materi yang disajikan juga jelas, membuat wawasan saya semakin bertambah. Semangat untuk konten-konten selanjutnya kak.
BalasHapusThank you :)
Hapus